Berita Hawzah – Pameran Internasional Muharram 2026 ke-18 digelar di bangunan bersejarah "Lal Baradari" yang terletak di Kaiser Bagh, Kota Lucknow, India, dengan dihadiri oleh para seniman dan fotografer dari berbagai negara. Acara budaya ini, melalui pameran karya-karya seni, ritual-ritual berkabung, dan berbagai manifestasi budaya Asyura, menggambarkan pesan universal Imam Husain (as), koeksistensi antar agama, dan persatuan kemanusiaan.
Pameran ini diselenggarakan dengan tema "Menjaga nyala pelita kemanusiaan" dan berupaya menyajikan kepada para pengunjung konsep-konsep seperti kebenaran, keadilan, pengorbanan, spiritualitas, dan koeksistensi kemanusiaan melalui sudut pandang seni. Dalam acara ini, beragam karya di bidang fotografi, lukisan, dan kaligrafi dengan fokus pada peristiwa Karbala, ritual-ritual berkabung, dan budaya Asyura dipamerkan kepada publik.

Pembukaan Pameran dengan Kehadiran Tokoh Ilmiah dan Budaya
Upacara pembukaan pameran ini dilangsungkan dengan hadirnya Profesor Alam Ali Mehdi, Rektor Universitas Lucknow, serta sejumlah tokoh ilmiah, budaya, dan seni.
Penyelenggara pameran ini menekankan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah membangun jembatan budaya antarbangsa dan berbagai agama melalui bahasa seni yang sama; bahasa yang mampu menyampaikan pesan Asyura melampaui batas-batas geografis dan keyakinan.
Partisipasi Luas Seniman Dalam dan Luar Negeri
Pada Pameran Internasional Muharram ke-18, seniman dari berbagai kota di India serta beberapa negara di dunia turut berpartisipasi. Secara keseluruhan, 30 fotografer, 36 kaligrafer, dan 22 pelukis memamerkan karya-karya mereka dengan tema Muharram, Karbala, dan budaya berkabung.
Karya-karya yang dipamerkan berasal dari seniman-seniman dari Iran, Irak, Tiongkok, Yunani, Arab Saudi, Lebanon, Republik Azerbaijan, Mesir, Turki, Inggris, dan India. Selain itu, seniman-seniman dari berbagai kota dan wilayah di India juga hadir dalam acara ini dan menampilkan berbagai aspek budaya serta sejarah Muharram melalui medium seni.
Cermin dari Kesatuan dan Koeksistensi Keagamaan
Salah satu ciri khas yang menonjol dari pameran ini adalah kehadiran luas para seniman dan pengunjung dari berbagai aliran dan agama. Selain seniman Syiah, sejumlah kalangan Sunni dan seniman Hindu juga turut berpartisipasi dengan mempersembahkan karya-karya mereka dalam acara ini; sebuah kehadiran yang memperlihatkan cermin indah dari budaya dan koeksistensi keagamaan di India.
Penyelenggara meyakini bahwa peristiwa Karbala bukanlah milik satu mazhab atau kelompok tertentu, melainkan mengandung pesan kemanusiaan dan universal yang dapat mempertemukan berbagai bangsa dan budaya di sekitar nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, dan martabat manusia.

Refleksi Budaya Asyura dalam Bingkai Seni; dari Qom hingga Jalalpur, India
Di bagian lain pameran ini, Mushaddiq Raza Qumi selaku pengarah artistik pameran, dengan perwakilan khusus dari Republik Islam Iran, menyajikan serangkaian karya visual dan budaya yang menampilkan ragam ritual berkabung, tradisi keagamaan, dan warisan budaya Iran, khususnya kota suci Qom.
Karya-karya ini, dengan fokus pada budaya duka cita Husaini di Iran, berupaya memperkenalkan kepada khalayak internasional tentang ikatan mendalam masyarakat Iran dengan gerakan Asyura serta pengabdian mereka kepada Imam Husain as. Di samping itu, ditampilkan pula gambar-gambar dari ritual tradisional berkabung di wilayah Jalalpur, India, yang menunjukkan kesamaan emosional, budaya, dan keagamaan antarbangsa dalam kecintaan mereka kepada Ahlulbait as dan upaya melestarikan kenangan Karbala.

Penghormatan kepada Para Syuhada Anak-Anak di Minab
Salah satu bagian yang paling mengesankan dalam pameran ini adalah penyajian karya khusus untuk memperingati para syuhada sekolah Minab; sebuah karya seni yang dengan pandangan humanis dan emosional mengenang anak-anak syuhada Republik Islam Iran.
Para pengunjung bagian ini menyaksikan karya tersebut dengan mata berkaca-kaca, dan di samping memberikan penghormatan kepada para syuhada cilik Iran, mereka juga menyatakan solidaritasnya kepada keluarga-keluarga mereka. Bagian pameran ini menggambarkan cermin dari keterkaitan seni dengan nilai-nilai perlawanan, keterzaliman, dan pengorbanan.
Penegasan akan Peran Seni dalam Menyebarkan Pesan Asyura
Para peserta dalam acara ini, termasuk seniman, peneliti, cendekiawan, aktivis sosial, dan tamu dari berbagai kalangan, menekankan pentingnya penyelenggaraan program-program semacam ini.
Menurut keyakinan mereka, pameran-pameran budaya dan seni yang berpusat pada Muharram dan Asyura bukan sekadar tempat untuk memajang karya seni, melainkan juga merupakan wahana yang efektif untuk mempromosikan perdamaian, persaudaraan, dialog antaragama, serta menyampaikan pesan universal Imam Husain as kepada generasi baru dan opini publik dunia.

Kehadiran Luas Seniman India dan Internasional
Pameran Internasional Muharram ke-18 tahun 2026 menyaksikan kehadiran luas para seniman, kaligrafer, pelukis, dan fotografer dari berbagai kota di India dan berbagai negara di dunia.
Di kalangan seniman India, hadir tokoh-tokoh dari Delhi, Mumbai, Varanasi, Kolkata, Aligarh, Srinagar, Dehradun, Moradabad, Gurugram, Prayagraj, Shimla, dan kota-kota lainnya, yang mempersembahkan karya-karya mereka dengan tema sentral budaya Asyura.
Selain itu, sekelompok fotografer dari Lucknow turut memainkan peran penting dalam memperkaya pameran ini dengan mengabadikan ragam ritual Muharram dan prosesi berkabung.
Di segmen internasional, turut hadir seniman-seniman dari Iran, Irak, Lebanon, Turki, Yunani, Spanyol, Arab Saudi, Inggris, dan Bosnia. Karya-karya yang dipersembahkan oleh para seniman ini dengan baik memperlihatkan keragaman budaya dan jangkauan global dari pesan Asyura.
Asyura; Bahasa Pemersatu Antar-Bangsa
Para penyelenggara pameran pada akhirnya menegaskan bahwa gerakan Imam Husain as saat ini telah menjadi bahasa pemersatu di antara bangsa-bangsa; sebuah bahasa yang melampaui batas-batas etnis, agama, dan geografis, serta mempertemukan manusia di sekitar nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, martabat kemanusiaan, dan perlawanan terhadap kezaliman.
Menurut keyakinan mereka, seni dapat menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan pesan universal ini, dan Pameran Internasional Muharram di Lucknow merupakan contoh nyata dari kapasitas budaya dan kemanusiaan tersebut.





Komentar Anda